Sekelompok peneliti LifeLens mencoba mengembangkan gagasan memanfaatkan smartphone untuk mendeteksi malaria. Algoritma citra sampel darah akan menentukan kondisi penyakit tersebut.
Malaria begitu menakutkan bagi Afrika. Data badan kesehatan dunia WHO pada 2008 melansir setiap 45 detik seorang anak Afrika meninggal oleh penyakit yang disebabkan oleh parasit ini. Penyebarannya pun luas dari perkotaan hingga pelosok. Sedikit terlambat ditangani, nyawa resikonya.
Mungkin inilah yang mengilhami tim ilmuwan LifeLens yang terdiri dari Tristan Gibeau, Cy Khormae, Jason Wakizaka, dan Helena Xu membuat terobosan mengatasi pandemi malaria. Mereka menawarkan sebuah solusi untuk mengubah smartphone menjadi mikroskop virtual yang dapat mendeteksi malaria hanya dari jepretan digital dari sampel darah pasien. “Ini memang terdengar musykil, kami tahu,” kata Tristan Gibeau, lulusan dari Universitas Central Florida yang mengembangkan software ini. “Teknologi yang kami punya sangat mungkin itu bisa dilakukan dan bisa jadi berbeda dengan pendeteksi malaria lain yang sudah dulu ada,” kata Tristan.
Perangkat Lifelens dibenamkan oleh analisis algoritma gambar yang ditulis dalam .NET dan Visual Studio. Visual Studio yang dipakai adalah untuk Windows Phone 7 menggunakan Microsoft Silverlight. Diagnosis penyakit menggunakan algoritma komputer vision yang ditulis dalam bahasa C++ dan mampu mendeteksi keberadaan parasit malaria di dalam darah penderita.
Tidak seperti pengamatan penyakit parasit yang biasanya menggunakan mikroskop di labaratorium, dokter dan perawat di Afrika cukup membidik sebuah gambar sampel dengan kamera handphone. Kemudian gambar tersebut dianalisis menggunakan algoritma, dihitung dan dideteksi dimana kluster malaria berlokasi dan mencemari. Bagi paramedis di lapangan, persiapan khusus yang dilakukan hanya satu yakni meneteskan cairan noda untuk melihat parasit malaria di sampel darah seperti halnya yang dilakukan di laboratorium. Hanya persoalannya, menurut Wilson To, salah satu mahasiswa yang berada di balik proyek Lifespan metode digital pendeteksi malaria ini sedikit lebih kompleks dibandingkan dengan tes laboratorium yang ada saat ini.
Dengan temuan ini tak berlebihan Lifespan diganjar sebagai finalis Microsoft Imagine Cup Competition 2011. Kompetisi ini memang ditujukan untuk merangsang imajinasi mahasiswa dengan memanfaatkan teknologi terbaru untuk memecahkan masalah global. Pemenangnya akan menerima dana untuk pengembangan produk dan komersialisasi produk tersebut. Untuk memasyarakatkan temuan ini, anggota tim lain menyiapkan antarmuka, presentasi, dan rencana pemasaran serta meminta bantuan dari ahli di bidang penyakit malaria.
“Saya ingin dokter di lapangan menggunakan temuan ini di area remote dimana masyarakat sangat membutuhkan,” kata Gibeau. “Ke depan kami ingin bisa mengadaptasi software ini untuk berjalan di berbagai platform dan secara potensial bisa mendeteksi penyakit lain yang membutuhkan penelitian laboratorium sebelumnya seperti anemia,” harap Gibeau.
Kombinasi antara handphone cerdas yang semakin banyak digunakan oleh masyarakat dari berbagai lapisan dengan pemanfaatan dari sisi kesehatan memunculkan harapan baru. Siapa tahu temuan Gibeau dan tim ini juga akan diadopsi oleh negara berkembang seperti Indonesia yang juga memiliki masalah soal malaria di beberapa lokasi. (Lukman Aribowo)



