Pasca Bayar
Prabayar
MAJALAH » Trend
Ketika Era Digital Menyentuh Petani
Senin, 16 November 2009
Aplikasi yang dirancang untuk emerging market ini menjadi solusi bagi para petani India untuk menghindari jeratan tengkulak. Mereka bisa menjual hasil panen dengan harga lebih bagus. Cocok untuk diterapkan di Indonesia, yang punya karakter mirip.
Dulu, Dhanagi Dongri selalu puyeng setiap habis memanen bawangnya. Bukan karena hasil panen yang jeblok, tapi petani bawang asal desa Khandali di distrik Solepur, India, ini bingung memikirkan kemana harus menjual hasil panennya, biar bisa mendapatkan harga jual yang bagus. Ia bukannya tak pernah mencari informasi harga pasar. Dhanagi sering mencermati info harga komoditas dari Koran. Dan bukan sekali dua kali ia menelepon pedagang kenalannya untuk menanyakan harga pasaraan bawang saat itu.
Cuma ya itu, ungkap pria 40 tahun ini, informasi harga di koran biasanya sudah tidak update lagi dengan harga di pasaran. Sementara menelepon agen –istilah mereka untuk pedagang penampung, alias pengepul-- lebih sering ketipu ketimbang mendapatkan info harga yang benar. “Agen sering memberi info harga yang salah, biar mereka dapat untung banyak,” keluh Dhanagi.
Tapi sejak sepuluh bulan lalu, tepatnya ketika Bapak tiga anak ini mencoba memanfaatkan aplikasi Nokia Life Tools (NLT) dari ponselnya, ia sudah tak khawatir lagi dibohongi agen. Karena, lewat aplikasi itu, Dhanagi tahu berapa harga pasaran untuk hasil panennya, dan di pasar terdekat mana yang harga jualnya tinggi. “Saya sekarang bisa mendapatkan untung 200 rupee lebih banyak untuk tiap kuintal bawang hasil panen saya,” kata Dhanagi sembari tersenyum.
Lain lagi cerita Mahesh Sheti. Pegawai Solapur District Central Cooperative Bank, semacam bank perkreditan rakyat di India ini, sekarang lebih pede mengucapkan kalimat dalam bahasa Inggris, meski masih belepotan dengan logat dan lidah lokalnya. Tadinya, seperti kebanyakan warga pedesaan dan kota-kota kecil di India, Mahesh tak bisa berbahasa Inggris.
Sarjana muda dari sebuah perguruan tinggi di India ini bercerita, ia punya dua anak, yang sudah bersekolah di SMA dan SMP. Meski di sekolah diajarkan bahasa Inggris, namun ia menganggap kurikulum bahasa Inggris di sekolah masih jauh dari memadai. Buktinya, kedua anaknya Cuma tahu bahasa Inggris yang itu-itu saja. Karena itu, ia terdorong mencari sarana lain untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris anak-anaknya, termasuk dia sendiri tentunya.
Untuk kursus jelas butuh duit banyak, ditambah sangat jarang ada tempat kursus Inggris di kota kecil semacam Solepur, tempat dia tinggal. Jadi, ketika ada Nokia Life Tools, Mahesh segera menggunakan aplikasi itu. Hasilnya? “Anak-anak saya sekarang sudah berani ngobrol dengan bahasa Inggris. Saya juga tentunya,” ujar Mahesh senang. “Percaya tidak, nilai bahasa Inggris mereka di sekolah juga lebih tinggi disbanding murid lain,” kata Mahesh bangga.
Nokia Life Tools yang disebut-sebut Dhanagi dan Mahesh, adalah aplikasi terbaru yang dikembangkan Nokia. Dibuat untuk mendukung pasar menengah bawah yang bersifat massal, atau yang kerap diistilahkan dengan emerging market. “Aplikasi ini dikembangkan untuk mendukung emerging market, untuk mengakomodasi kebutuhan segmen menengah bawah. Jadi selain menyediakan produk, Nokia juga melengkapi dengan aplikasi sehingga ponsel menjadi perangkat optimal bagi kepentingan penggunanya,” kata Jawahar Kanjilal, Global Head of Emerging Market Services Nokia. Dan segmen ini, khususnya di India, lekat dengan para petani dan buruh.
Jawahar mengatakan, idenya adalah mengatasi kesenjangan informasi (harga komoditas) antara petani dan pasar. “Banyak petani yang tidak punya akses informasi harga pasar. Akibatnya mereka kerap menjual hasil panen di bawah harga pasar. NLT hadir untuk mengisi kesenjangan itu, dan memberi akses informasi harga dengan cara yang sederhana, murah dan mudah dilakukan,” papar Jawahar.
Memang, NLT sendiri pada dasarnya merupakan aplikasi sederhana berbasis SMS, namun dengan tampilan yang lebih user friendly berbentuk grafis dan table. Karenanya, tak butuh akses broadband untuk memanfaatkan aplikasi ini. “Cukup dengan jaringan GSM,” kata Jawarhal. Untuk pasar India, aplikasi ini sudah dibenamkan (embedded) pada seri 1680 classic dan 2600 classic. Dalam menunya, ada tiga pilihan konten, tentang pertanian, edukasi, dan hiburan.
Untuk pertanian, ada info harga pasaran komoditas pertanian, informasi dan perkiraan cuaca, berita, saran dan tips, termasuk informasi pupuk. Konten edukasi berisi pelajaran bahasa Inggris. Meskipun bahasa Inggris umum digunakan di India sebagai bahasa kedua, namun penduduk kelas menengah bawah, terutama penduduk pedesaan, rata-rata tak bisa berbahasa Inggris. Sementara konten hiburan, salah satunya, berisi ramalan bintang.
Semua konten itu ditampilkan dalam bahasa local (daerah). Seperti konten bahasa Inggris, misalnya, selain ditulis dalam huruf latin, juga tersedia cara membaca dalam hurus sankrit, serta artinya dalam bahasa lokal.
Menurut Jawarhal, aplikasi ini memang ditekankan pada aspek local. Informasi local yang dituangkan dalam bahasa local. Maksudnya agar lebih mudah diterima dan dimengerti pengguna, yang memang sesuai targetnya adalah lapisan menengah bawah. Namun, justru itu yang membuat aplikasi ini benar-benar mengena pada target.
Betapa tidak, info harga misalnya, pengguna mendapatkan info harga dari pasar terdekat dari tempat tinggal pengguna. Info cuaca sama juga, berisi perkiraan cuaca dalam radius 50 km dari tempat tinggal pengguna. Karena itulah, informasi yang didapat pengguna benar-benar spesifik dari lokasi tempat tinggal pengguna.
Informasi yang sedemikian spesifik itu, memang tak lepas dari keseriusan Nokia dalam menggelar NLT. Betapa tidak, mereka menggandeng partner yang benar-benar punya kompetensi di bidangnya. Untuk data cuaca, misalnya, mereka menggandeng Skymet, perusahaan penyedia data cuaca dengan teknologi terkini, dan punya cakupan global. Skymet sendiri punya kantor di Amerika, Inggris dan India.
Untuk urusan pengolahan dan analisa data, Nokia menggandeng Infinite, sebuah perusahaan penyedia solusi data yang juga berstandar internasional. Akurasi olah data jelas berperan vital dalam layanan ini. Bayangkan saja, dalam sehari ada 10 ribu lebih data yang diolah dan dianalisa, sebelum dikirimkan ke pengguna. Data itu berasal dari data harga 275 jenis komoditi dari 4000 pasar (tradisional) di seantero India. Belum lagi ditambah data 11 bahasa local di India, data 5000 desa di 18 negara bagian.
Artikel sebelumnya

